nasi uduk dan ayam goreng

Nasi uduk dan ayam goreng – Aku terbangun dan hampir terlompat secara matahari terlihat dari celah-celah dinding bambu kamarku. Sudah siang!, keluhku. Aku berjalan cepat menyambar handuk hampir afkir yang sengaja aku gantungkan di gantungan baju terbuat dari plastik berwarna merah di samping pintu keluar kamarku.

Sukses meraih handuk itu, aku lantas berjalan setengah berlari menuju kamar mandi di belakang rumah orang tuaku. Aku segera membuka pintunya yang hampir lepas dari bingkainya, menutupnya, kemudian secepatnya bertempur dengan dinginnya air di pagi itu…

Orangtuaku kebetulan memang bukanlah orang yang berada, meskipun tidak bisa dibilang miskin banget. Ini aku asumsikan karena terdapat sebuah sumur pompa di belakang rumahnya serta juga halaman yang cukup luas di depan rumahnya di mana aku bisa menjemur padi setelah musim panen tiba.

Seselesainya mandi, aku segera berganti pakaian dengan pakaian kering yang sudah aku setrika kemaren sore. O iya hampir lupa, aku orangnya memang sedikit rajin meskipun tampangku sedikit minus karena kulitku yang sedikit hitam. Memang benar hidungku mancung dengan bentuk muka yang segitiga terbalik membuat si Rina, tetanggaku suka main ke rumahku, bahkan suka tidur juga di kamarku waktu aku tidak ada, atau waktu aku pura-pura pergi jauh, tetapi tetap saja kulitku warnanya hitam, duh…

Selesai berpakaian rapi aku menyisir rambut hitamku, kemudian setelahnya aku lantas berjalan keluar kamar karena aku harus segera berangkat bekerja di sebuah ruko karena terus terang saja aku tidak mau menjadi sandsack si bos karena aku terlambat masuk kerja. Maklumlah, bos keturunan Tionghoa tersebut sangat sayang kepadaku sehingga menghargaiku lebih mahal daripada sopir truk lainnya.

Mungkin bosku tersebut perhitungannya kurang tepat (atau kurang waras qiqiqi) karena kebanyakan clubbing atau bagaimana sehingga mau saja dia menggajiku lebih besar daripada pekerja yang lainnya atau dia berharap sesuatu dariku, entahlah aku kurang paham.

Juga, terkadang pandangan aneh istrinya suka membuat aku merasa gelisah karena sepertinya mau melahapku mentah-mentah, mungkin karena aku terlalu banyak mengambil untung dari suaminya, mulai dari gajiku yang sudah cukup besar, ditambah komisi tiap-tiap ada orang yang mengorder, ditambah lagi si penyewa biasanya juga kasih aku uang tambahan karena aku rajin membantu membawakan barangnya, sehingga notabene ini mengurangi pemasukan suaminya yang pada akhirnya mengurangi asap yang mengepul di dapur si encik atau bagaimana kurang paham juga aku, namun ini aku biarkan begitu saja demi kelangsungan pekerjaan kesayanganku ini…

Aku terus berjalan menyusuri jalan aspal pinggir desaku yang mulai rusak, di sebelah kiri seperti telah diajarkan waktu aku masih sekolah tentunya.

Sampai di sebuah warung nasi uduk aku berhenti sebentar untuk sarapan. Ibu tua penjual nasi uduk memberikan sepiring nasi uduk untuk aku makan. Aku yang tergesa-gesa tidak sempat berdoa sebelum akhirnya habislah nasi uduk dengan ayam goreng dalam hitungan menit. Selanjutnya aku minum segelas air putih yang diberikan kepadaku oleh ibu tua tersebut.

Selesai minum, aku menyerahkan gelasnya kepada ibu tua itu dengan tanganku yang OH MY GOD!!!! Aku terlompat setinggi dua meter setelah sadar ternyata itu bukan tangan melainkan sayap ayam berwarna hitam!

Aku berteriak sekeras-kerasnya, sampai hampir kalap dan setengah gila rasanya.

Aku kemudian lari menghambur menyeberang jalan, namun malang nasibku ternyata dari arah belakang ada sebuah kendaraaan roda 4 yang sepertinya memang sudah mengincarku dari tadi karena aku merasakan ban kendaraan tersebut diatas dengan tepat melindas kepalaku yang kemudian remuk tak berbentuk…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here