cerita cinta

Cerita Cinta Terindah di Karaoke Karamama – Aku menutup pintu mobil itu setelah posisi kakiku yang menginjak karpet lantainya tepat. Sopir taksi online (takol) itu melirikkku sejenak, sambil tersenyum dia bertanya kepadaku, ke Karamama, bos? Iya, sahutku lirih. Sejenak kemudian, takol yang kusewa tersebut mulai berpacu dengan angin dingin bercampur gerimis yang kebetulan turun bersamaan saat aku menaikinya.

Beberapa saat berlalu, aku dan sopir takol tersebut saling berdiam diri, sibuk bergelut dengan pikiran kami masing-masing. Namun demikian aku merasa sedikit aneh karena dalam waktu yang agak lama tidak ada tanda-tanda bahwa aku akan sampai ke tempat yang aku tuju. Saat aku memandang sejenak muka sopir takol tersebut, dia membalas pandanganku sambil menyeringai aneh. Bukan seringai yang bersahabat, bukan pula seringai yang bermusuhan. Nampaknya seperti seringai kuda, atau sebuah seringai kelaparan yang membuatku merinding.

Kok belum sampai-sampai? Tanyaku lirih. Tenang, bos. Sebentar lagi juga sampai. jawab sopir takol tersebut dengan suara yang sedikit aneh dan mencurigakan. Aku tetap tenang karena terbayang olehku aku sedang ditunggu oleh temanku disebuah tempat karaoke di mall terbesar di kota dimana aku tinggal saat ini. Temanku itu, yang kebetulan adalah seorang wanita, merupakan orang penting di sebuah perusahaan kontraktor yang akan mengerjakan proyek pembangunan gedung yang akan digunakan sebagai kantor cabang dari company dimana aku bekerja. Rencananya, kami akan membicarakan beberapa masalah terkait dengan rencana tersebut sambil karaoke.

Takol yang aku sewa berhenti di depan loby mall yang aku tuju. Aku turun sambil tersenyum bersahabat kepada sopir takol tersebut, menghindari kecurigaan karena aku malas kalau ketemu di lain waktu dia akan terlalu banyak bertanya, suatu hal yang paling kubenci dari banyak penyedia layanan-layanan yang ada, karena kurasa berseberangan dengan privasiku. Tentu saja takol tersebut sudah terbayar secara otomatis tadi menggunakan aplikasi seluler yang disediakannya.

Setelah berjalan kurang-lebih 5 menit menyusuri emperan mall, aku akhirnya menemukan satu blok ruko dimana tempat karaoke yang aku tuju berada. Aku masuk, kemudian aku tebarkan pandanganku ke tempat duduk yang tertata rapi di depan meja resepsionis. Ponselku bergetar tanda ada pesan yang masuk. Kamu duduk dulu ya, aku sebentar lagi kesitu, isi pesan temanku yang baru saja aku terima. Aku segera duduk ke salah satu tempat duduk termudah yang bisa aku capai.

Lima menit kemudian, temanku tersebut datang bersama temannya, seorang wanita pula. Mereka berdua duduk disampingku. Setelah beramah-tamah sejenak, kami berdiri kemudian memesan ruangan karaoke tempat kami akan bersenang-senang dengan cara bernyanyi bersama-sama. Mendapatkan kamar karaoke yang enak, kami tersenyum kepada resepsionis yang bertugas. Dengan diantarkan oleh seorang petugas kami memasuki sebuah ruangan karaoke yang nyaman, kedap suara dengan perlengkapan sound system yang mutakhir.

Setelah lampu ruangannya dihidupkan, temannya temanku tersebut menyalakan peralatan karaoke, kemudian di layar yang mirip dengan televisi dia memilih lagu yang cukup populer dengan beat yang cepat dan menyenangkan. Sudah dihidupkan, dia duduk disamping kananku sementara temanku di samping kiriku, posisinya persis seperti dalam sebuah cerita cinta yang pernah aku baca dalam sebuah majalah remaja beberapa waktu yang silam.

Kami saling berdiam diri sibuk dengan pikiran kami masing-masing saat kemudian seorang pelayan kamar karaoke datang membawa buku menu. Aku memesan 3 botol minuman ringan dan beberapa bungkus makanan ringan yang bisa memuaskan perasaan di mulut kami.

Sambil makan dan minum, aku berhasil mencapai kata sepakat dalam proyek pembangunan kantor baru company tempatku bekerja, dimana kantor teman wanitakulah yang akan menyelesaikannya dalam tenggat 3 bulan. Aku tahu itu terlalu cepat baginya, tapi aku tidak terlalu perduli karena aku juga harus mengejar posisi di kantorku. Masa iya, bertahun –tahun kerja masih juga level bawah, alasanku. Maka dari itu pertemuan ini aku manfaatkan untuk keuntungan pihak kantorku dengan harapan aku segera naik pangkat.
Merasa berhasil membuat deal yang menguntungkan kedua belah pihak, aku dan teman wanitaku, serta temannya, bernyanyi sampai pagi. Mungkin karena energi dari minuman dan makanan ringan yang kami konsumsi sehingga kami tidak tidur dan kuat bernyanyi sampai pagi…

Aku menghubungi takol yang akan mengantarku pulang sementara temanku beserta temannya masih ada di sampingku. Masih jam 6, jadi aku masih bisa minum kopi, bersih-bersih, dan pergi ke kantor pikirku. Setelah takol yang aku sewa mengonfirmasikan kalau sudah sampai di depan ruko tempatku karaoke, aku mengucapkan kata-kata perpisahan dengan mereka berdua sambil berterima kasih atas deal yang telah kami buat.

Takol yang aku sewa berhenti tepat di depan rumah kontrakanku yang kebetulan memiliki halaman yang cukup luas, dengan 3 kamar tidur dan 1 kamar mandi membuat istriku betah memeliharanya. Aku membuka pintu rumah dan memasuki ruang tamu tetapi aku tidak menemukan istriku. Aku masuk ke kamar. Aku melihat istriku masih tidur di atas tempat tidur. Aku panggil dia diam saja. Aku dekati, aku amati dengan seksama. Aku lihat mukanya membiru serta sedikit busa keluar dari mulutnya. Aku pegang dahinya, dingin.

Proyek yang harus ditukar dengan nyawa, bisikku pelan sambil mengingat-ingat cerita cinta yang telah aku lalui tadi malam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here